BIMA, LOMBOKTODAY.ID – Komitmen menghadirkan solusi nyata tak sekadar wacana ditunjukkan langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, saat meninjau lokasi banjir di Desa Nggembe, Kabupaten Bima, pada Selasa (3/3/2026). Kunjungan ini menjadi bagian dari rangkaian Safari Ramadan di Pulau Sumbawa.
Didampingi jajaran BPBD Provinsi NTB dan BPBD Kabupaten Bima, Gubernur Iqbal menyusuri titik-titik terdampak, berdialog dengan warga, sekaligus memastikan distribusi bantuan logistik berjalan tepat sasaran. Kehadirannya menjadi sinyal kuat bahwa penanganan bencana tak boleh berhenti pada respons darurat.
Hasil peninjauan lapangan, khususnya di Dusun Jala, mengungkap dua faktor utama penyebab banjir bandang. Pertama, sistem drainase yang tidak berfungsi optimal sehingga aliran air hujan tersumbat. Kedua, anomali elevasi tata ruang—dasar sungai berada lebih tinggi dibanding kawasan permukiman warga. Kondisi ini membuat air sungai dengan mudah meluap dan menggenangi rumah-rumah.
“Penanganan bencana tidak boleh berhenti pada bantuan darurat. Kita harus memastikan ada solusi permanen agar kejadian serupa tidak terus berulang,” tegas Gubernur Iqbal.
Data sementara mencatat 204 Kepala Keluarga terdampak langsung. Sebanyak 177 unit rumah terendam dengan ketinggian air mencapai 50–80 sentimeter saat puncak banjir.
Tak hanya merendam hunian, banjir juga memutus akses transportasi akibat rusaknya satu jembatan di bawah kewenangan pemerintah kabupaten. Fasilitas pendidikan seperti SDN Inpres Nggembe dilaporkan kerap terendam setiap hujan lebat, menambah daftar dampak jangka panjang terhadap aktivitas belajar-mengajar.
Merespons situasi tersebut, BPBD Provinsi NTB menyusun sejumlah rekomendasi strategis: Penataan ulang sistem drainase, Normalisasi alur sungai, Evaluasi tata ruang kawasan terdampak.
Gubernur Iqbal menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bima serta instansi terkait agar langkah mitigasi dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
“Kita tidak ingin masyarakat terus hidup dalam kekhawatiran setiap musim hujan. Penanganan harus komprehensif, dari hulu hingga hilir,” tegasnya.
Pemprov NTB turut mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan mengikuti arahan petugas di lapangan demi keselamatan bersama.
Banjir Nggembe menjadi pengingat bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim dan penataan ruang yang berkelanjutan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.(ltn)

















