Oleh: Lalu Andrian Hardi │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
TUNAWICARA itu kondisi di mana seseorang sulit atau bahkan nggak bisa bicara secara verbal. Di tengah masyarakat, orang tunawicara sering banget kena stigma dan perlakuan nggak adil. Banyak yang langsung menganggap mereka nggak bisa berkomunikasi dengan baik, bahkan kadang dicap kurang pintar. Sebenarnya, anggapan kayak gini muncul karena banyak orang belum benar-benar ngerti soal konsep bahasa dan komunikasi.
Kalau lihat dari sudut pandang psikolinguistik, bahasa itu nggak selalu soal ucapan lisan aja. Orang bisa berkomunikasi lewat bahasa isyarat, tulisan, atau bahkan ekspresi nonverbal. Tapi karena banyak yang belum paham soal ini, orang tunawicara sering banget disalahpahami, akhirnya jadi tersisih.
Stigma terhadap tunawicara muncul karena banyak orang masih percaya bahwa bicara lisan itu satu-satunya tanda kecerdasan atau kemampuan komunikasi. Akibatnya, tunawicara sering dipinggirkan, baik di lingkungan sosial, sekolah, bahkan di tempat kerja. Hal ini nggak cuma bikin mereka kehilangan banyak kesempatan, tapi juga bisa merusak kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka.
Di sekolah, misalnya. Sering ada anggapan kalau siswa tunawicara itu pasif atau nggak paham pelajaran—semata-mata karena mereka nggak bisa menjawab secara lisan. Padahal, kalau diberi kesempatan menulis atau pakai bahasa isyarat, mereka bisa kok menunjukkan pemahaman yang sama baiknya. Jadi, masalahnya bukan di mereka, tapi di sistem dan cara pandang masyarakat yang belum benar-benar menerima perbedaan.
Gangguan bicara juga nggak selalu berarti ada gangguan kognitif. Banyak tunawicara yang bisa berpikir kritis, memahami pelajaran, dan berkomunikasi dengan lancar lewat bahasa isyarat atau tulisan. Karena itu, masyarakat perlu berhenti menilai orang hanya dari kemampuan bicaranya. Selama stigma itu masih ada, tunawicara akan terus dianggap lemah, padahal mereka punya potensi yang sama dengan siapa pun.
Stigma terhadap orang tunawicara masih saja jadi masalah di tengah masyarakat. Banyak yang salah paham—mereka bukan nggak bisa berbahasa, mereka cuma pakai cara komunikasi yang beda. Yang dibutuhkan itu sebenarnya pemahaman, empati, dan sikap inklusif dari kita semua. Kalau masyarakat mulai terbuka, stigma bakal berkurang dan interaksi sosial juga jadi lebih adil.(*)

















