Penulis: Kristina Wulandari |
Afiliasi: Program Studi Magister Peradagogi, Universitas Muhammadiyah Malang
KARANGAMPEL, LOMBOKTODAY.ID – Pola interaksi sosial antara Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan siswa non ABK di lingkungan sekolah inklusi menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan.
Interaksi sosial dinilai sebagai salah satu indikator utama keberhasilan penyelenggaraan pendidikan inklusif di sekolah umum.
Hal tersebut menjadi fokus penelitian yang tengah dilakukan di SPS Cikal Aisyiyah Karangampel, Indramayu, sebagai salah satu sekolah umum yang juga melayani peserta didik berkebutuhan khusus.
Kajian ini bertujuan memetakan dinamika hubungan sosial antara ABK dan siswa non ABK dalam aktivitas sehari-hari di lingkungan sekolah.
Peneliti menjelaskan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan timbal balik yang dinamis, baik antarindividu maupun antara individu dengan kelompok.
Dalam konteks pendidikan inklusi, interaksi ini menjadi sarana penting dalam mendukung perkembangan sosial, emosional, hingga akademik seluruh siswa.
“Bagi ABK, interaksi dengan teman sebaya non ABK dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, rasa percaya diri, dan kemampuan beradaptasi sosial. Sementara bagi siswa non ABK, hal ini dapat menumbuhkan empati, toleransi, serta penghargaan terhadap keberagaman,” jelasnya.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan interaksi tersebut tidak selalu berjalan harmonis. Sejumlah penelitian sebelumnya menemukan adanya dua pola besar interaksi sosial, yakni pola asosiatif seperti kerja sama, penerimaan sosial, dan akomodasi, serta pola disosiatif seperti penolakan, konflik, persaingan, hingga perundungan atau bullying.
Fenomena seperti ejekan terhadap ABK, keengganan untuk duduk bersama, bermain bersama, hingga pengucilan sosial masih kerap ditemukan.
Kondisi ini umumnya dipicu oleh persepsi negatif siswa non ABK terhadap keterbatasan fisik maupun akademik ABK.
Selain itu, kurangnya pemahaman siswa terhadap kondisi ABK serta minimnya dukungan dari guru kelas dan Guru Pembimbing Khusus (GPK) turut menjadi faktor penghambat terciptanya interaksi sosial yang positif.
SPS Cikal Aisyiyah Karangampel dinilai memiliki karakteristik unik karena dipengaruhi oleh jenis ABK yang dilayani, budaya sekolah, serta strategi guru dalam membangun integrasi sosial di lingkungan belajar.
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran nyata mengenai pola interaksi yang terjadi, baik yang bersifat positif maupun negatif, sekaligus menjadi dasar dalam merumuskan rekomendasi praktis bagi sekolah.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya peran guru dan lingkungan sekolah dalam menciptakan suasana inklusif, ramah anak, dan bebas diskriminasi.
Sekolah diharapkan mampu memperkuat kebijakan yang mendukung interaksi positif, menyusun program pelatihan empati, serta mengoptimalkan peran guru pendamping dalam mendampingi ABK.
Keberhasilan pendidikan inklusi, menurut peneliti, tidak hanya diukur dari keberadaan ABK di sekolah umum, tetapi juga dari sejauh mana mereka diterima, dihargai, dan mampu berinteraksi secara sehat dengan seluruh warga sekolah.(ltn)

















