Oleh: Niken Amara Dena │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
BERBICARA merupakan aktivitas dasar manusia yang berfungsi sebagai sarana menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Dalam praktiknya, kemampuan berbicara tidak selalu berjalan lancar bagi setiap individu. Salah satu faktor yang sering memengaruhi proses berbicara adalah kecemasan. Kondisi ini kerap muncul dalam situasi formal maupun informal, seperti presentasi, diskusi kelas, atau percakapan sehari-hari.
Kecemasan dapat memengaruhi kondisi mental dan fisik seseorang. Saat individu merasa cemas, fokus pikiran terganggu dan tubuh memberikan respons tertentu, seperti jantung berdebar, napas tidak teratur, dan ketegangan otot. Kondisi tersebut berpengaruh pada kelancaran berbicara, baik dari segi penyusunan kata maupun penyampaian pesan. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana kecemasan dapat mengganggu cara seseorang berbicara.
Kecemasan sering kali muncul karena adanya rasa takut dinilai, takut melakukan kesalahan, atau kekhawatiran tidak mampu menyampaikan pesan dengan baik. Dalam situasi ini, seseorang dapat mengalami kesulitan merangkai kalimat, berbicara terlalu cepat, mengulang kata, atau bahkan kehilangan kata-kata saat berbicara.
Dalam konteks akademik, kecemasan berbicara dapat berdampak pada performa mahasiswa. Individu yang sebenarnya memahami materi dengan baik bisa terlihat tidak siap atau kurang kompeten hanya karena kesulitan menyampaikan pendapat secara lisan. Hal ini juga dapat menurunkan kepercayaan diri dan menghambat partisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
Selain itu, lingkungan sosial yang kurang suportif dapat memperparah kondisi tersebut. Respons negatif, seperti ejekan atau kritik berlebihan, dapat membuat individu semakin takut untuk berbicara. Sebaliknya, lingkungan yang memberikan rasa aman dan dukungan dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan keberanian dalam berkomunikasi.
Mengelola kecemasan saat berbicara bukanlah hal yang instan. Beberapa langkah sederhana dapat dilakukan, seperti mengatur napas sebelum berbicara, memberikan waktu pada diri sendiri untuk berpikir, serta menerima bahwa kesalahan adalah bagian dari proses komunikasi. Kesadaran bahwa kecemasan merupakan pengalaman yang wajar juga dapat membantu individu menghadapi situasi berbicara dengan lebih tenang.
Kecemasan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap cara seseorang berbicara. Gangguan dalam kelancaran berbicara bukan semata-mata disebabkan oleh kurangnya kemampuan bahasa, melainkan kondisi emosional yang tidak stabil. Oleh karena itu, pemahaman dan empati terhadap individu yang mengalami kecemasan berbicara sangat diperlukan.
Dengan menciptakan lingkungan yang suportif dan meningkatkan kesadaran akan dampak kecemasan, proses komunikasi dapat berlangsung dengan lebih efektif dan manusiawi. Berbicara bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang kesiapan mental dan rasa aman dalam mengekspresikan diri.(*)

















