Oleh: Hazlin Wulandari │
Mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Inggris, UNW Mataram, 2025
Tugas Akhir Mata Kuliah Psycholinguistics
Dosen Pengampu Mata Kuliah: M. Rajabul Gufron, S.Pd., M.A
DALAM kelas bahasa Inggris sebagai bahasa asing (EFL), saya sering melihat siswa berada dalam situasi serba salah: berbicara lancar tetapi penuh kesalahan, atau berbicara sangat hati-hati namun nyaris tidak berbunyi. Dilema antara fluency dan accuracy ini bukan sekadar persoalan kemampuan bahasa, melainkan persoalan psikologis yang memengaruhi keberanian, kepercayaan diri, dan motivasi belajar siswa. Banyak siswa sebenarnya memiliki ide yang ingin disampaikan, tetapi rasa takut salah justru membungkam mereka. Menurut saya, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena pembelajaran bahasa seharusnya membebaskan siswa untuk berkomunikasi, bukan membuat mereka takut berbicara.
Fenomena ini semakin terasa di kelas EFL, di mana kesempatan menggunakan bahasa Inggris di luar kelas sangat terbatas. Akibatnya, kelas menjadi satu-satunya ruang praktik, namun justru sering dipenuhi tekanan akademik dan koreksi berlebihan. Di sinilah muncul pertanyaan penting: apakah kelancaran lebih penting daripada ketepatan, atau sebaliknya?
Menurut pandangan saya, terlalu menekankan accuracy sejak awal justru dapat melemahkan keberanian siswa untuk berbicara. Ketika setiap kesalahan langsung dikoreksi, siswa menjadi takut mencoba. Mereka lebih sibuk memikirkan struktur kalimat daripada menyampaikan makna. Dalam jangka panjang, sikap ini dapat menumbuhkan kecemasan berbahasa dan menghambat perkembangan komunikasi alami. Saya sering menemukan siswa yang memahami materi secara pasif, tetapi enggan berbicara karena takut ditertawakan atau dianggap salah.
Di sisi lain, fokus pada fluency juga memiliki risiko. Siswa yang terbiasa berbicara bebas tanpa arahan dapat membentuk kebiasaan bahasa yang keliru. Kesalahan yang dibiarkan terlalu lama bisa menjadi pola permanen yang sulit diperbaiki. Namun, menurut saya, risiko ini masih lebih mudah ditangani daripada hilangnya kepercayaan diri siswa. Kesalahan bahasa dapat diperbaiki seiring waktu, tetapi rasa takut berbicara jauh lebih sulit dipulihkan.
Dilema ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan memilih fluency atau accuracy, melainkan bagaimana menciptakan keseimbangan yang sehat. Saya berpendapat bahwa kelas EFL seharusnya memberi ruang aman bagi siswa untuk bereksperimen dengan bahasa tanpa rasa takut. Guru dapat memisahkan momen latihan bebas untuk kelancaran dan sesi khusus untuk pembenahan struktur. Koreksi pun sebaiknya diberikan secara bijak agar tidak mematikan motivasi belajar.
Lebih jauh, faktor psikologis seperti rasa aman, dukungan sosial di kelas, dan cara guru merespons kesalahan sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Ketika siswa merasa dihargai, mereka akan lebih berani mengambil risiko linguistik. Keberanian inilah yang menjadi fondasi utama dalam membangun kompetensi berbahasa yang sesungguhnya.
Menurut saya, dilema fluency dan accuracy di kelas EFL merupakan cerminan dari tantangan psikologis pembelajar bahasa. Terlalu menekankan ketepatan dapat menumbuhkan ketakutan, sementara terlalu mengejar kelancaran dapat mengabaikan kualitas bahasa. Solusi terbaik bukan memilih salah satu, melainkan mengelola keduanya secara seimbang dengan pendekatan yang manusiawi. Kelas bahasa idealnya menjadi ruang yang aman, mendorong keberanian, dan tetap mengarahkan siswa menuju penggunaan bahasa yang semakin tepat. Dengan cara ini, pembelajaran bahasa tidak hanya menghasilkan siswa yang mampu berbicara, tetapi juga percaya diri dan siap berkomunikasi di dunia nyata.(*)

















