Dari Data ke Aksi, NTB Gaspol Turunkan Stunting 2026 Lewat Kolaborasi Total

- Jurnalis

Kamis, 19 Februari 2026 - 13:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Sinta Agathia Iqbal didampingi Kepala Dinas Kesehatan NTB, HL Hamzi Fikri saat Rakor di Aula Kantor Dinas Kesehatan NTB, Kamis (19/2/2026).

Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Sinta Agathia Iqbal didampingi Kepala Dinas Kesehatan NTB, HL Hamzi Fikri saat Rakor di Aula Kantor Dinas Kesehatan NTB, Kamis (19/2/2026).

MATARAM, LOMBOKTODAY.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mulai menekan pedal percepatan penurunan stunting menuju 2026. Melalui Rapat Koordinasi (Rakor), di Aula Dinas Kesehatan Provinsi NTB, pada Kamis (19/2/2026), pemerintah menegaskan satu hal: isu stunting tidak bisa lagi diselesaikan oleh sektor kesehatan sendirian. Jadi, ini kerja bareng semua lini.

Ketua Tim Penggerak PKK NTB, Sinta Agathia Iqbal, mengakui evaluasi tahun sebelumnya menunjukkan upaya yang berjalan masih terfragmentasi. “Gerakan kita kemarin belum cukup efektif. Stunting itu kompleks, jadi tidak bisa ditangani parsial,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan lama yang fokus pada bantuan gizi saja sudah tidak relevan. Realitas di lapangan menunjukkan akar masalah jauh lebih luas: pernikahan dini, pola asuh, sanitasi, hingga kondisi rumah.

Ia bahkan mencontohkan kasus di Lombok, di mana anak stunting bukan karena kekurangan makanan, melainkan ventilasi rumah buruk dan lingkungan tidak sehat. “Tidak semua anak butuh telur. Kadang yang dibutuhkan justru perbaikan rumah, ventilasi, atau edukasi pola asuh,” katanya.

Baca Juga :  Lombok Tengah Raih Paritrana Award Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat 2025

Karena itu, Sinta Agathia Iqbal mendorong sistem kolaborasi lebih terstruktur dari provinsi sampai desa dengan memanfaatkan jaringan kader yang sudah menjangkau akar rumput. “Masalahnya besar, jadi solusinya juga harus urunan. Semua pihak harus chip in,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, HL Hamzi Fikri, memaparkan kondisi terkini. NTB menggunakan dua sumber data: Survei Kesehatan Indonesia (SKI) dan e-PPGBM (by name by address). Hasilnya menunjukkan dua gambaran berbeda: SKI 2024: 29,8% (naik 5,2%), e-PPGBM: 13,8% dari sekitar 388 ribu balita.

Perbedaan angka ini menjadi kunci strategi: intervensi harus berbasis data individu, bukan hanya statistik umum.
“Kalau lintas sektor bergerak bersama dan intervensinya tepat, maka angka ini bisa kita tekan,” jelasnya.

Menurut Hamzi Fikri, bahwa Lombok Timur masih menjadi wilayah dengan prevalensi tertinggi, sementara Kota Mataram tergolong paling rendah. Salah satu strategi utama: meningkatkan kehadiran ke Posyandu minimal 80 persen.

Baca Juga :  Di Hadapan Paripurna Dewan Wabup Lotim Paparkan Prioritas Pembangunan Daerah

Hamzi Fikri menjelaskan, pendekatan 2026 lebih menitikberatkan pada pencegahan dibanding penanganan. “Anak berisiko kalau diintervensi dua minggu sudah terlihat hasilnya. Tapi kalau sudah stunting, tiga bulan pun hasilnya tidak sebanding,” ujar Fikri.

Faktor risiko prioritas: pernikahan anak, bayi berat lahir rendah (BBLR), kepesertaan JKN tidak aktif, rendahnya ASI eksklusif.

Rakor juga menyoroti penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok 3B: bayi, balita, dan ibu hamil. Cakupan saat ini baru sekitar 40%, ditargetkan 100% pada 2026. “Kami berharap MBG memberi kontribusi nyata pada penurunan stunting,” kata Fikri.

Pemprov NTB ingin seluruh intervensi berjalan optimal sebelum survei nasional April–Agustus 2026, agar hasilnya terukur dan berkelanjutan. Rakor dihadiri BKKBN NTB, Badan Gizi Nasional (BGN), tim ahli gubernur, praktisi gizi, dan berbagai pemangku kepentingan.

Pesan utamanya jelas: stunting bukan sekadar isu kesehatan, ini isu masa depan generasi. Dan NTB memilih menghadapinya dengan satu kata kunci: kolaborasi total.(Sid)

Berita Terkait

Polisi Evakuasi Pria Terjatuh dari Jembatan Perbatasan Pancor-Sekarteja, Korban Kritis di RSUD Selong
Peringati Hari Mangrove Sedunia dan HUT ke-62, Bank NTB Syariah Tanam Mangrove di Kawasan Ekowisata Paremas
IGPR Summit 2026 Perkuat Komunikasi Publik, Humas Pemerintah Diminta Jadi Penangkal Disinformasi
Gubernur Iqbal Gendong Bayi Hidrosefalus di Lombok Tengah, Soroti Lonjakan 15 Kasus di NTB
TRC Infrastruktur NTB Bergerak Cepat, Jalan Kediri-Kuripan yang Lama Rusak Mulai Diperbaiki dengan Anggaran Rp700 Juta
Bupati Lombok Timur: Tanpa Dokter, Pembangunan Daerah Tak Akan Pernah Maju
Pemkab Lotim Percepat Penyempurnaan DTSEN, Pastikan Bansos Tepat Sasaran untuk Warga Miskin
Ratusan Investasi di NTB Tertahan, Gubernur Iqbal Percepat Revisi RTRW Berbasis Mitigasi Bencana

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 11:04 WIB

Polisi Evakuasi Pria Terjatuh dari Jembatan Perbatasan Pancor-Sekarteja, Korban Kritis di RSUD Selong

Selasa, 28 Juli 2026 - 09:11 WIB

Peringati Hari Mangrove Sedunia dan HUT ke-62, Bank NTB Syariah Tanam Mangrove di Kawasan Ekowisata Paremas

Selasa, 28 Juli 2026 - 06:09 WIB

IGPR Summit 2026 Perkuat Komunikasi Publik, Humas Pemerintah Diminta Jadi Penangkal Disinformasi

Senin, 27 Juli 2026 - 14:02 WIB

Gubernur Iqbal Gendong Bayi Hidrosefalus di Lombok Tengah, Soroti Lonjakan 15 Kasus di NTB

Minggu, 26 Juli 2026 - 16:05 WIB

TRC Infrastruktur NTB Bergerak Cepat, Jalan Kediri-Kuripan yang Lama Rusak Mulai Diperbaiki dengan Anggaran Rp700 Juta

Berita Terbaru