MATARAM, LOMBOKTODAY.ID – Kinerja ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencetak awal tahun yang impresif. Pada Triwulan I-2026, ekonomi NTB tumbuh 13,64 persen (year-on-year), sekaligus diikuti penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 2,99 persen.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik NTB menunjukkan, pertumbuhan ini bukan sekadar angka, tetapi mulai berdampak nyata pada kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat.
Lonjakan ekonomi NTB ditopang kuat oleh sektor industri pengolahan yang melejit hingga 60,25 persen. Kinerja ini tak lepas dari meningkatnya aktivitas smelter yang memberi nilai tambah besar bagi perekonomian daerah.
Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian juga tumbuh signifikan sebesar 31,80 persen, seiring meningkatnya produksi konsentrat.
Dari sisi pengeluaran, ekspor menjadi “game changer” dengan pertumbuhan fantastis mencapai 91,87 persen. Lonjakan ini didorong meningkatnya ekspor komoditas tambang dan produk industri pengolahan yang sebelumnya belum optimal pada periode yang sama tahun lalu.
Secara nominal, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku mencapai Rp52,62 triliun, sementara atas dasar harga konstan 2010 tercatat Rp29,68 triliun.
Meski secara kuartalan (q-to-q) ekonomi mengalami kontraksi 1,30 persen dibanding Triwulan IV-2025, kondisi ini dinilai sebagai faktor musiman, terutama pada sektor industri dan ekspor.
Namun secara tahunan, tren pertumbuhan tetap menunjukkan ekspansi yang solid dan berkelanjutan.
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, kondisi ketenagakerjaan NTB juga menunjukkan perbaikan nyata.
Jumlah penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 3,14 juta orang, naik sekitar 51,20 ribu orang dibanding tahun sebelumnya.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi 32,86 persen.
Namun, sektor industri pengolahan mulai tampil sebagai sumber lapangan kerja baru yang semakin penting.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 2,99 persen, atau berkurang 0,23 persen poin dibanding Februari 2025.
Ini menjadi sinyal kuat bahwa pertumbuhan ekonomi mulai lebih inklusif dan menyerap tenaga kerja secara lebih luas.
Tak hanya kuantitas, kualitas pekerjaan juga mengalami peningkatan. Proporsi pekerja formal naik menjadi 29,51 persen, sementara angka setengah pengangguran menurun.
Artinya, tenaga kerja di NTB kini semakin terserap secara optimal dalam sektor-sektor produktif.
BPS NTB mencatat, penguatan sektor pertanian dan industri—ditambah dukungan program strategis pemerintah menjadi faktor penting dalam mendorong aktivitas ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja.
Secara keseluruhan, capaian ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi NTB tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga mulai memberikan dampak konkret bagi masyarakat, terutama dalam bentuk penurunan pengangguran dan peningkatan kualitas pekerjaan.(arz)

















