LOTENG, LOMBOKTODAY.ID – Upaya menekan angka pernikahan usia anak di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) terus diperkuat.
Desa Bangket Parak, Kecamatan Pujut, menjadi lokasi pelaksanaan sosialisasi kesehatan reproduksi, pencegahan pernikahan dini, serta layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nahdlatul Wathan (UNW) Mataram bersama Ikatan Mahasiswa Bumigora (IMB) Mataram, Sabtu (16/5/2026).
Kegiatan bertajuk “Optimalisasi Kesehatan Masyarakat dan Edukasi Pencegahan Pernikahan Dini Demi Mewujudkan Generasi Emas” itu digelar sebagai langkah nyata menekan angka pernikahan anak yang masih menjadi tantangan di wilayah Lombok Tengah.
Selain menghadirkan edukasi bagi pelajar dan masyarakat, kegiatan tersebut juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang didukung Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTB, Puskesmas Teruwai, dan RS Mandalika.
Antusiasme masyarakat terlihat cukup tinggi. Puluhan warga memanfaatkan layanan kesehatan, sementara peserta sosialisasi berasal dari berbagai sekolah di Kecamatan Pujut, mulai dari tingkat SMA, SMK, MA, hingga SMP dan SD.
Ketua LPA NTB, Saparudin Efendi, menilai tingginya partisipasi masyarakat menjadi sinyal positif meningkatnya kepedulian terhadap masa depan generasi muda.
Menurutnya, pernikahan usia dini masih menjadi persoalan serius karena dampaknya tidak hanya memengaruhi pendidikan anak, tetapi juga berpotensi memperpanjang lingkaran kemiskinan.
“Selain menghambat pendidikan, dampaknya juga dapat memicu lingkaran kemiskinan dan menurunkan kualitas hidup yang berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak kesehatan yang dapat muncul akibat kehamilan pada usia remaja. Menurutnya, kondisi fisik dan mental yang belum matang meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun bayi.
Tak hanya itu, pasangan yang menikah di usia muda juga dinilai lebih rentan menghadapi persoalan rumah tangga, mulai dari konflik hingga perceraian.
Pembina IMB Lombok Tengah, Sumaji, mengatakan pelajar menjadi sasaran utama kegiatan karena pernikahan anak masih menjadi tantangan pembangunan di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sementara itu, Ketua IMB Lombok Tengah, Sujiadi, berharap lebih banyak organisasi kepemudaan ikut terlibat mengangkat isu perlindungan anak dan pencegahan pernikahan dini.
Ketua BEM Fakultas Ilmu Kesehatan UNW Mataram, Aura Athiyah Anargia, menegaskan edukasi kesehatan serta penguatan masyarakat akan tetap menjadi fokus gerakan mahasiswa.
Di sisi medis, dokter umum RS Mandalika, M. Dedy Kusnadi, menjelaskan pernikahan usia dini memiliki risiko besar terhadap kesehatan reproduksi remaja, terutama perempuan di bawah usia 20 tahun.
Menurutnya, organ reproduksi remaja belum berkembang secara optimal sehingga lebih rentan mengalami anemia, persalinan prematur, preeklamsia, hingga peningkatan risiko kanker serviks.
Kurangnya edukasi kesehatan reproduksi juga dapat meningkatkan risiko infeksi menular seksual, termasuk HIV.
Melalui kolaborasi lintas sektor ini, para penyelenggara berharap upaya perlindungan anak dan edukasi kesehatan masyarakat dapat terus diperkuat demi menekan angka pernikahan usia anak di Lombok Tengah.(ltn)

















