LOTIM, LOMBOKTODAY.ID — Banjir yang tak kunjung surut di Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) kembali menjadi sorotan. Sudah lebih dari dua bulan, rumah-rumah warga masih terendam air. Situasi ini mendorong Komisi IV DPRD Kabupaten Lotim meminta pemerintah daerah bergerak lebih cepat dan lebih strategis.
Ketua Komisi IV DPRD Lotim, Lalu Hasan Rahman, menegaskan bahwa penanganan banjir tak boleh berhenti pada solusi darurat semata. Menurutnya, Lotim membutuhkan langkah komprehensif agar kejadian serupa tak terus berulang setiap musim hujan.
“Pemkab harus segera berkoordinasi dengan Pemprov NTB. Jangan sampai rumah warga dibiarkan terendam berbulan-bulan,” tegasnya, pada Kamis (26/2/2026).
Banjir di Jerowaru bukan persoalan tunggal. Ada rangkaian faktor yang saling berkaitan. Hasan Rahman menjelaskan, pendangkalan sungai, saluran drainase yang tersumbat, hingga curah hujan tinggi menjadi kombinasi yang memperparah situasi. Ia juga menyoroti alih fungsi lahan yang dinilai ikut memperburuk daya serap lingkungan.
Secara geografis, Jerowaru berada di dataran rendah dan dikelilingi perbukitan. Kondisi ini membuat kawasan tersebut rawan menjadi “cekungan alami” penampung limpasan air.
Karena itu, ia mendorong keterlibatan lintas sektor, termasuk Dinas Lingkungan Hidup serta dinas pertanian dan perkebunan, untuk duduk bersama merumuskan solusi berbasis data dan tata ruang berkelanjutan.
Komisi IV juga menilai Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) perlu mengambil peran lebih aktif. Mengingat durasi banjir yang sudah melewati dua bulan, dibutuhkan intervensi kebijakan dan dukungan teknis yang lebih luas. “Harus ada alternatif solusi jangka panjang supaya tahun depan tidak terjadi lagi,” ujarnya.
Di sisi lain, Hasan Rahman mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur (Pemkab Lotim). Alat berat dan mesin pompa air telah diturunkan untuk mempercepat surutnya genangan.
Namun bagi Komisi IV, langkah tanggap darurat ini baru permulaan. Pengawasan akan terus dilakukan agar penanganan berjalan optimal dan berkelanjutan.
Bagi warga Jerowaru, banjir bukan sekadar berita—ia adalah realitas harian yang menguji ketahanan ekonomi, kesehatan, dan psikologis. Kini publik menanti: akankah solusi permanen benar-benar lahir, atau banjir akan kembali menjadi ritual tahunan?
Waktu akan menjawab. Namun yang pasti, kolaborasi dan keberanian mengambil kebijakan berbasis lingkungan menjadi kunci agar Jerowaru tak lagi tenggelam dalam siklus yang sama.(Kml)

















