LOBAR, LOMBOKTODAY.ID — Empati tak cukup diucapkan dari balik meja. Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Abdul Hadi, turun langsung menyapa warga terdampak banjir di Desa Perampuan dan Desa Karang Bongkot, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Kamis (26/2/2026).
Dalam kunjungan tersebut, legislator dari Dapil NTB II/Pulau Lombok itu menyerahkan lebih dari 70 paket sembako kepada keluarga yang terdampak. Kehadirannya menjadi penegasan bahwa respons terhadap bencana tak hanya soal bantuan darurat, tetapi juga tentang mencari akar persoalan.
Di tengah warga, Abdul Hadi menyoroti persoalan infrastruktur, khususnya penataan sungai yang dinilai belum optimal. Menurutnya, kondisi sungai di Perampuan sebelumnya tidak menimbulkan dampak signifikan.
Namun, perubahan fungsi lahan pertanian serta masifnya pembangunan perumahan membuat aliran sungai menyempit, sehingga debit air lebih mudah meluap saat curah hujan tinggi. “Banyaknya pembangunan perumahan juga menjadi salah satu penyebab banjir. Penataan tata ruang wilayah (RTRW) jangan sampai dilanggar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan tanpa perencanaan matang bisa berujung pada kerentanan lingkungan.
Di era pertumbuhan kawasan hunian yang pesat, kepatuhan terhadap RTRW dinilai krusial agar masyarakat tak terus menjadi korban bencana berulang.
Politisi PKS itu berharap pemerintah lebih tegas dalam menegakkan aturan tata ruang. Ia juga mendorong sinergi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar), hingga pemerintah pusat untuk melakukan normalisasi dan penataan sungai secara berkelanjutan.
“Kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, Pemerintah Lombok Barat, serta pemerintah pusat. Mudah-mudahan koordinasi yang baik bisa dilakukan sehingga dampak banjir tidak lagi dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Langkah ini dinilai penting agar penanganan banjir tak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi berlanjut pada solusi jangka panjang berbasis tata kelola wilayah yang berkelanjutan.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan urbanisasi yang semakin cepat, peristiwa ini menjadi refleksi bahwa pembangunan harus selaras dengan kelestarian lingkungan—demi masa depan Lombok yang lebih tangguh dan aman bagi generasi hari ini dan esok.(ham)

















